August 15, 2016

Tunggu

Pasti punya laut dalam kepalaku,
Yang ku dengar cuma hamparan ombak
Memecahkan antara khayalan dan realiti
Dan sebenarnya aku termanggu
Disudut paling ceruk kamarku

 Pasti sumringah kiranya
Andai kita bersama
Menikmati hari-hari tanpa noda
Apakan daya seorang anak muda
Terhampar beratus batu dari keluarga
Disini aku berpijak jauh dari negeriku

Aku berjalan, jauh dari sampingmu
Aku berteduh, tanpa naunganmu
Aku bersandar, tanpa hangat pelukmu
Meski tanpa kehadiranmu,
Aku akan tetap berkerja
Dan terus berkarya
Menuntut ilmu demi masa depan kita

Akan ku terus bertahan,
Meski kau jauh dariku
Meski kau tak di sisiku
Kerna aku tahu
Doamu disetiap hembusan nafasmu
Senantiasa mengiringi setiap langkahku.

Tunggu aku…
Akan ku persembahkan pada kamu
Mahkota ilmu. Yang aku cita-citakan
Yang membuatkan aku sanggup berpisah darimu
Tunggu aku…
Kembali ke teratak singgahsana mu
Dengan mahkota itu di kepalaku.

May 20, 2016

Sangkar kecewa



Wau, nun, alif

Sedih, memendam perih
mengalir dalam jiwa
tanpa ku sangka
hati batu ini
boleh pecah
dipanah kata-kata
saat kau ucap kepadaku
“kita tidak mampu bersama”.

Aku tidak bisa mendakapmu
aku tidak mampu menggapai mu
ingin sekali aku jalani hidup lebih dekat dengan mu
waktu itu ku jalani hidupku dengan senyum dan tawa mu
seandainya hati ini bisa bicara
takkan ada sesak dalam rusuk padat.

Seandainya kau tahu
bagaimana cinta ini hadir mengisi hatiku
dengan bodohnya aku mengharap
agar kau mengerti perasaanku
agar kau sama rasaku
namun khayalan bodohku itu
bertolak dengan realiti


Kau hanyalah fatamorgana yang menyakitkan
sebuah badai dalam hidupku
kenapa dengan hati ini?
ku terlanjur tak bisa menghapus rasa ini
meski kau sudah ku relakan

waktu itu baru terjawab olehku
bahawa cintamu bukan untukku
sesak batin ini menahannya.


Tapi datang persoalan baru
adakah aku harus selalu
mengalah dan berkorban demi cinta
yang tidak pernah bisa menjadi milikku?

March 19, 2016

Cinta

Manusia itu kian rakus
bolong-bolong hati disuap nafsu
jiwanya dibutakan dengan ambisi dunia
darjatnya cinta itu dahulu diukur dengan setia
hari ini, cinta diukur dengan berapa ramai
permainan yang tidak ada pemenang.

Mengapa anak muda?
Mengapa jalan yang salah kau pilih?
Seolahnya mengejar cinta itu lebih ghairah
dari menghafal surah
bebaskanlah dirimu dari dijajah
oleh sesiapa atau apa-apa sahaja
kalau kau sibuk bermain cinta,
bila agak akan kau mengerti maknanya cinta?

February 28, 2016

Siapa tahu?

Siuman secara zahir
Majnun di dalam batin.

Tidak sama.

Masa tidurku tak seperti kamu
mengapa begitu? Aku tidak tahu
masa kau tidur aku berkarya
masa kau kerja aku terlena
dan bila masa kau pulang aku pula bekerja
rotasi masa sama situasi berbeza
cerita ku benar bukan direka
boleh kau intai aku dari jendela mata
jika ingin mengenal diriku yang hina.

Lawak jenaka kadang aku lontar
kdang terdiam melihat manusia
gelagat, pelat kita tak serupa
namun hakikat dari Maha Esa
selesa perut tak perlu ku ikat
cemuhan musuh? Telinga ku tambat
selepas subuh masa ku berehat.

Adakah benar aku berehat?

May 20, 2015

Si Pungguk Maya

Aku adalah pungguk
mengelam dan menghiba
gundah yang tercipta
keluar semua rasa
rinduku terperuk.

Pernah sekali aku tatap atap angkasa
dimalam yang gelita pekatnya
saat aku cuba menggapai bintang
aku terlena dek kerdipannya
disitu hadirmu sang purnama
tanpa sedar menyinari malam ku.

Tertari senyum dalam hati
terkenang kisah kasih sejati
antara kau, aku dan sunyi
cinta bertaut penuh misteri
dalam cahaya dan kalbu
dalam hitam ku tunggu selalu.

Aku adalah pungguk
hanya bisa menatap
dan terus berharap
agar cercahan cahayamu dapat ku peluk.

Ah.. pelukanmu hanya bayangan
yang tidak jadi nyata
kerna dikau adalah bulan
sedangkan aku si pungguk maya.

May 12, 2015

Setia.

Selesai sujud menghadap-Nya,
lantas jemari ini menggapai handphone,
sendirian tersengih,
penangan whatsapp barangkali,
penangan facebook barangkali,
penangan instagram barangkali.

Lincah jemari mengetuk-ngetuk skrin telefon,
terlalu laju, terlalu asyik,
sampai terleka adab dengan Tuhan.
zikirnya tiada,
alunan cinta untuk-Nya juga tiada,
apatah lagi, doa.

Kita ambil enteng,
kita pandang sebelah mata.
kelak bila ditimpakan musibah,
saat mana hati kita remuk,
terjatuh tersungkur,
tiada daya untuk bangkit,
saat mana kita rasakan tidak mampu,
disitu doa kita jadi kyusuk,
disitu zikirnya jadi kyusuk,
alunan surat cinta dari-Nya dibiar menyusup dalam hati.

Bila susah kita cari Allah,
bila kita rasa senang, mudah kita melupakanNya.
Cuba belajar untuk setia.
Setia bercinta denganNya tidak kira susah dan senang.

Selamat bercinta dengan pencipta cinta.

April 1, 2015

Silapmu.

Apa yang kau kejarkan?
Apa yang kau mahukan?
Puas hati buat begitu dan begini?
Tidakkan kau sedar yang kau sendiri memburukkan dirimu?
Tidakkan kau punya akal untuk fikir dimana darjatmu?

Mungkin kau rasa kau raja,
Mahu perintah satu semesta,
Dengan jelingan manja dan kerlipannya.
Tapi yang pantas untukmu hanya seekor kera.

Bermadah pujangga,

KAU INI BAGAIMANA atau AKU HARUS BAGAIMANA?

Kau ini bagaimana?
Kau bilang aku merdeka, kau memilihkan untukku segalanya
Kau suruh aku berpikir, aku berpikir kau tuduh aku kafir


Aku harus bagaimana?
Kau bilang bergeraklah, aku bergerak kau curigai
Kau bilang jangan banyak tingkah, aku diam saja kau waspadai

Kau ini bagaimana?
Kau suruh aku memegang prinsip, aku memegang prinsip kau tuduh aku kaku
Kau suruh aku toleran, aku toleran kau bilang aku plin plan

Aku harus bagaimana?
Aku kau suruh maju, aku mau maju kau selimpung kakiku
Kau suruh aku bekerja, aku bekerja kau ganggu aku

Kau ini bagaimana?
Kau suruh aku takwa, khutbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa
Kau suruh aku mengikutimu, langkahmu tak jelas arahnya

Aku harus bagaimana?
Aku kau suruh menghormati hukum, kebijaksanaanmu menyepelekannya
Aku kau suruh berdisiplin, kau mencontohkan yang lain

Kau ini bagaimana?
Kau bilang Tuhan sangat dekat,
kau sendiri memanggil-manggilnya dengan pengeras suara setiap saat
Kau bilang kau suka damai, kau ajak aku setiap hari bertikai

Aku harus bagaimana?
Aku kau suruh membangun, aku membangun kau merusakkannya
Aku kau suruh menabung, aku menabung kau menghabiskannya

Kau ini bagaimana?
Kau suruh aku menggarap sawah, sawahku kau tanami rumah-rumah
Kau bilang aku harus punya rumah, aku punya rumah kau meratakannya dengan tanah

Aku harus bagaimana?
Aku kau larang berjudi, permainan spekulasimu menjadi-jadi
Aku kau suruh bertanggungjawab,
kau sendiri terus berucap 'Wallahu a'lam bissawab'

Kau ini bagaimana?
Kau suruh aku jujur, aku jujur kau tipu aku
Kau suruh aku sabar, aku sabar kau injak tengkukku

Aku harus bagaimana?
Aku kau suruh memilihmu sebagai wakilku, sudah kupilih kau bertindak sendiri semaumu
Kau bilang kau selalu memikirkanku, aku sapa saja kau merasa terganggu

Kau ini bagaimana?
Kau bilang bicaralah, aku bicara kau bilang aku ceriwis
Kau bilang jangan banyak bicara, aku bungkam kau tuduh aku apatis

Aku harus bagaimana?
Kau bilang kritiklah, aku kritik kau marah
Kau bilang carikan alternatifnya,
aku kasih alternatif kau bilang jangan mendikte saja

Kau ini bagaimana?
Aku bilang terserah kau, kau tidak mau
Aku bilang terserah kita, kau tak suka
Aku bilang terserah aku, kau memakiku

Kau ini bagaimana?
ATAU AKU HARUS BAGAIMANA?


- KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) 1987

November 16, 2014

Seni Sebagai Kata



Belum ada kata yang tak mampu diucapkan

Bermula dari deretan huruf berjajar membentuk sebuah kata,
Kadang mata kasar terlihat satu namun tak menutup kemungkinan sarat akan makna.


Jejeran kata dalam kalimah berdiri teguh bak benteng dipapan catur,
Sekilas dibaca membingungkan dan nampak tak beratur.


Sang penyair melantunkan kata kata indah nan puitis,
Sang pujangga pun mengukirkan puisi yang tak kalah romantic.


Mural dan Graffiti bertebaran di sepanjang dinding kota,
Menyuguhkan kata dalam gambar agar kelak mendapatkan perhatian.


Kadang kala kata tak cukup tuk mengungkapkan perasaan,
Tapi benar juga kata orang tua dahulu kala jikalau perasaan tidak mesti diungkapkan.


Terdengar rancu mendengarkan kata bijak dari mulut seorang penjahat,
Namun sebijak bijaknya orang bijak jikalau mendengarkan meski tanpa melihat.


Hidup bagai mengumpulkan jejak kata kata,
Memungut dan menjadikannya sebagai pedoman hidup.


Tak pernah ada salah dari sebuah kata,
Tinggal cara memahami akan makna yang tersembunyi dibaliknya.


Mengungkapkan makna kata kata melalui seni,
Jalan hidup yang takkan membosankan.


Kata itu seni,
Tanpa sebuah kata seni takkan ada.


Boleh jadi sebaliknya.

November 10, 2014

Dua muka satu kepala

Manusia itu pelbagai ragamnya
Ada yang punya mata tapi masih buta
Ada yang punya lidah tapi bercadang dua
Bicaranya jujur sambil berdusta
Nista umpama zikir
Meluah kata tanpanya fikir
Apa sedang praktik menjadi munafik?

Di depan mata
Kau bermanis muka
Tutur kata asyik berbunga
Hakikatnya
Disini kau mencela
Disitu kau mencerca
Menjaja onar mengusut sengketa

Kawan, jangan kau jadikan kesungguhan sebagai guyonan
Yang salah mengubati bisa membawa mati
Yang gemar berdusta kan dijauhi bila tersingkap dustanya

"Di antara manusia ada yang mengatakan bahwa mereka beriman, namun sesungguhnya mereka tidak beriman. Mereka mencoba menipu Allah dan orang-orang beriman, tapi sayang, sebetulnya mereka telah menipu diri mereka sendiri.” 
(Al-Baqarah: 8-9).

November 6, 2014

Hipokrasi

Dalam megah mereka membenci,
Mengutuk,
Tidak mahu memahami,
Mengharamkan itu ini,

Pada masa yang sama jualah,
Mereka diam membisu,
Bagai dijerut halkum-halkum mereka,
Dari berperang menegakkan yang Haq,

Nun, 
Di peti kaca TV,
Galak menyentuh tiada bersebab,
Tidak lah pulak mereka menajiskan,

Nun,
Di kerusi-kerusi empuk,
Hidup sang penyangak,
Menelan segala riba,
Wahai, diam sahaja?

Nun,
Di tepi-tepi longkang,
Hidup sang gelendangan,
Dikutuk dihina,
Mereka senyap seribu bahasa.

Nun, 
Di ceruk2 dusun,
Manusia bagai lagaknya haiwan,
Menyondol kalahkan khinzir,
Tidak pula mereka khuathir

Ah,
Kerja mereka hanya mahu melaga,
Mengusut dari menguraikan,
Supaya buncit perut mereka,
Kenyang hasil menerangkan,
Kekusutan yang mereka cipta tadi.

Ah,
Borjuis-borjuis agama,
Kamu membenci yahudi nasrani,
Namun kamu semacam serasi...

Aku harus bagaimana?
Atau kamu yang harus bagaimana?

(At-Taubah: 34)

June 7, 2014

Maaf adik.

Adik, kenapa menangis?
Air mata kau tak laku di sini.
Biarlah air mata kau selebat hujan,
Tiada simpati untukmu di hati kami.

Wahai adik, kenapa kau menangis?
Kau lapar? Kau dahaga?
Sudah 4 hari kau tak makan?
Biarpun kau mati kebuluran,
Kami di sini tiada peduli.

Adikku sayang, mengapa menangis?
Kau takut? Siapa yang kau takutkan?
Yahudi? Zionis?
Kau jangan bergurau adik,
mereka itu sahabat kami.

Adik, kenapa kau sedih?
Ibubapa kau sudah mati?
Anggaplah itu ajal mereka,
Bukankah kau masih hidup lagi adik?
Apakah kau tidak bersyukur?

Kenapa kau menangis adik yg comot?
Kau tiada masa bermain-main dengan kawan?
Kau tiada makanan manis kegemaran kau?
Kau takut peluru Zionis yang memburu setiap langkah kau?
Kau takut dipijak tapak but tentera Zionis?
Bukankah kau dilahirkan cuma untuk merasai semua ini?
Jadi kenapa kau bersedih?

Tak guna kau menangis adikku sayang.
Kau pasti sedih kami membantu cuma dengan doa, bukan harta kami.
Kau memandang kami dengan muka yang dahagakan simpati kami.
Kau memandang kami sebagai saudara kau dengan sejuta harapan bantuan.
Kau memanggil kami dengan suara yang bisu.

Maaf adik, kami tiada mata untuk melihat pandangan kau.
Maaf sayang, kami pekak untuk mendengar suara seruan bantuan kau.

Kenapa kau masih menangis adik?
Kau berasa terseksa hidup di dunia ini?

Itu sudah pasti adik, kerana dunia ini neraka buatmu dan pasti kau tersenyum di sana.
Kau tentu bahagia di negeri yang kekal.