Si Pungguk Maya

| | 0 sudah LEBAM »
Aku adalah pungguk
mengelam dan menghiba
gundah yang tercipta
keluar semua rasa
rinduku terperuk.

Pernah sekali aku tatap atap angkasa
dimalam yang gelita pekatnya
saat aku cuba menggapai bintang
aku terlena dek kerdipannya
disitu hadirmu sang purnama
tanpa sedar menyinari malam ku.

Tertari senyum dalam hati
terkenang kisah kasih sejati
antara kau, aku dan sunyi
cinta bertaut penuh misteri
dalam cahaya dan kalbu
dalam hitam ku tunggu selalu.

Aku adalah pungguk
hanya bisa menatap
dan terus berharap
agar cercahan cahayamu dapat ku peluk.

Ah.. pelukanmu hanya bayangan
yang tidak jadi nyata
kerna dikau adalah bulan
sedangkan aku si pungguk maya.

Setia.

| | 0 sudah LEBAM »
Selesai sujud menghadap-Nya,
lantas jemari ini menggapai handphone,
sendirian tersengih,
penangan whatsapp barangkali,
penangan wechat barangkali,
penangan facebook barangkali,
penangan instagram barangkali.

Lincah jemari mengetuk-ngetuk skrin telefon,
terlalu laju, terlalu asyik,
sampai terleka adab dengan Tuhan.
zikirnya tiada,
alunan cinta untuk-Nya juga tiada,
apatah lagi, doa.

Kita ambil enteng,
kita pandang sebelah mata.
kelak bila ditimpakan musibah,
saat mana hati kita remuk,
terjatuh tersungkur,
tiada daya untuk bangkit,
saat mana kita rasakan tidak mampu,
disitu doa kita jadi kyusuk,
disitu zikirnya jadi kyusuk,
alunan surat cinta dari-Nya dibiar menyusup dalam hati.

Bila susah kita cari Allah,
bila kita rasa senang, mudah kita melupakanNya.
Cuba belajar untuk setia.
Setia bercinta denganNya tidak kira susah dan senang.

Selamat bercinta dengan pencipta cinta.

Silapmu.

| | 0 sudah LEBAM »
Apa yang kau kejarkan?
Apa yang kau mahukan?
Puas hati buat begitu dan begini?
Tidakkan kau sedar yang kau sendiri memburukkan dirimu?
Tidakkan kau punya akal untuk fikir dimana darjatmu?

Mungkin kau rasa kau raja,
Mahu perintah satu semesta,
Dengan jelingan manja dan kerlipannya.
Tapi yang pantas untukmu hanya seekor kera.

Bermadah pujangga,

KAU INI BAGAIMANA atau AKU HARUS BAGAIMANA?

| | 0 sudah LEBAM »
Kau ini bagaimana?
Kau bilang aku merdeka, kau memilihkan untukku segalanya
Kau suruh aku berpikir, aku berpikir kau tuduh aku kafir


Aku harus bagaimana?
Kau bilang bergeraklah, aku bergerak kau curigai
Kau bilang jangan banyak tingkah, aku diam saja kau waspadai

Kau ini bagaimana?
Kau suruh aku memegang prinsip, aku memegang prinsip kau tuduh aku kaku
Kau suruh aku toleran, aku toleran kau bilang aku plin plan

Aku harus bagaimana?
Aku kau suruh maju, aku mau maju kau selimpung kakiku
Kau suruh aku bekerja, aku bekerja kau ganggu aku

Kau ini bagaimana?
Kau suruh aku takwa, khutbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa
Kau suruh aku mengikutimu, langkahmu tak jelas arahnya

Aku harus bagaimana?
Aku kau suruh menghormati hukum, kebijaksanaanmu menyepelekannya
Aku kau suruh berdisiplin, kau mencontohkan yang lain

Kau ini bagaimana?
Kau bilang Tuhan sangat dekat,
kau sendiri memanggil-manggilnya dengan pengeras suara setiap saat
Kau bilang kau suka damai, kau ajak aku setiap hari bertikai

Aku harus bagaimana?
Aku kau suruh membangun, aku membangun kau merusakkannya
Aku kau suruh menabung, aku menabung kau menghabiskannya

Kau ini bagaimana?
Kau suruh aku menggarap sawah, sawahku kau tanami rumah-rumah
Kau bilang aku harus punya rumah, aku punya rumah kau meratakannya dengan tanah

Aku harus bagaimana?
Aku kau larang berjudi, permainan spekulasimu menjadi-jadi
Aku kau suruh bertanggungjawab,
kau sendiri terus berucap 'Wallahu a'lam bissawab'

Kau ini bagaimana?
Kau suruh aku jujur, aku jujur kau tipu aku
Kau suruh aku sabar, aku sabar kau injak tengkukku

Aku harus bagaimana?
Aku kau suruh memilihmu sebagai wakilku, sudah kupilih kau bertindak sendiri semaumu
Kau bilang kau selalu memikirkanku, aku sapa saja kau merasa terganggu

Kau ini bagaimana?
Kau bilang bicaralah, aku bicara kau bilang aku ceriwis
Kau bilang jangan banyak bicara, aku bungkam kau tuduh aku apatis

Aku harus bagaimana?
Kau bilang kritiklah, aku kritik kau marah
Kau bilang carikan alternatifnya,
aku kasih alternatif kau bilang jangan mendikte saja

Kau ini bagaimana?
Aku bilang terserah kau, kau tidak mau
Aku bilang terserah kita, kau tak suka
Aku bilang terserah aku, kau memakiku

Kau ini bagaimana?
ATAU AKU HARUS BAGAIMANA?


- KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) 1987

Seni Sebagai Kata

| | 0 sudah LEBAM »


Belum ada kata yang tak mampu diucapkan

Bermula dari deretan huruf berjajar membentuk sebuah kata,
Kadang mata kasar terlihat satu namun tak menutup kemungkinan sarat akan makna.


Jejeran kata dalam kalimah berdiri teguh bak benteng dipapan catur,
Sekilas dibaca membingungkan dan nampak tak beratur.


Sang penyair melantunkan kata kata indah nan puitis,
Sang pujangga pun mengukirkan puisi yang tak kalah romantic.


Mural dan Graffiti bertebaran di sepanjang dinding kota,
Menyuguhkan kata dalam gambar agar kelak mendapatkan perhatian.


Kadang kala kata tak cukup tuk mengungkapkan perasaan,
Tapi benar juga kata orang tua dahulu kala jikalau perasaan tidak mesti diungkapkan.


Terdengar rancu mendengarkan kata bijak dari mulut seorang penjahat,
Namun sebijak bijaknya orang bijak jikalau mendengarkan meski tanpa melihat.


Hidup bagai mengumpulkan jejak kata kata,
Memungut dan menjadikannya sebagai pedoman hidup.


Tak pernah ada salah dari sebuah kata,
Tinggal cara memahami akan makna yang tersembunyi dibaliknya.


Mengungkapkan makna kata kata melalui seni,
Jalan hidup yang takkan membosankan.


Kata itu seni,
Tanpa sebuah kata seni takkan ada.


Boleh jadi sebaliknya.