| | 0 sudah LEBAM »
Apa yang kau kejarkan?
Apa yang kau mahukan?
Puas hati buat begitu dan begini?
Tidakkan kau sedar yang kau sendiri memburukkan dirimu?
Tidakkan kau punya akal untuk fikir dimana darjatmu?

Mungkin kau rasa kau raja,
Mahu perintah satu semesta,
Dengan jelingan manja dan kerlipannya.
Tapi yang pantas untukmu hanya seekor kera.

Bermadah pujangga,

KAU INI BAGAIMANA atau AKU HARUS BAGAIMANA?

| | 0 sudah LEBAM »
Kau ini bagaimana?
Kau bilang aku merdeka, kau memilihkan untukku segalanya
Kau suruh aku berpikir, aku berpikir kau tuduh aku kafir


Aku harus bagaimana?
Kau bilang bergeraklah, aku bergerak kau curigai
Kau bilang jangan banyak tingkah, aku diam saja kau waspadai

Kau ini bagaimana?
Kau suruh aku memegang prinsip, aku memegang prinsip kau tuduh aku kaku
Kau suruh aku toleran, aku toleran kau bilang aku plin plan

Aku harus bagaimana?
Aku kau suruh maju, aku mau maju kau selimpung kakiku
Kau suruh aku bekerja, aku bekerja kau ganggu aku

Kau ini bagaimana?
Kau suruh aku takwa, khutbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa
Kau suruh aku mengikutimu, langkahmu tak jelas arahnya

Aku harus bagaimana?
Aku kau suruh menghormati hukum, kebijaksanaanmu menyepelekannya
Aku kau suruh berdisiplin, kau mencontohkan yang lain

Kau ini bagaimana?
Kau bilang Tuhan sangat dekat,
kau sendiri memanggil-manggilnya dengan pengeras suara setiap saat
Kau bilang kau suka damai, kau ajak aku setiap hari bertikai

Aku harus bagaimana?
Aku kau suruh membangun, aku membangun kau merusakkannya
Aku kau suruh menabung, aku menabung kau menghabiskannya

Kau ini bagaimana?
Kau suruh aku menggarap sawah, sawahku kau tanami rumah-rumah
Kau bilang aku harus punya rumah, aku punya rumah kau meratakannya dengan tanah

Aku harus bagaimana?
Aku kau larang berjudi, permainan spekulasimu menjadi-jadi
Aku kau suruh bertanggungjawab,
kau sendiri terus berucap 'Wallahu a'lam bissawab'

Kau ini bagaimana?
Kau suruh aku jujur, aku jujur kau tipu aku
Kau suruh aku sabar, aku sabar kau injak tengkukku

Aku harus bagaimana?
Aku kau suruh memilihmu sebagai wakilku, sudah kupilih kau bertindak sendiri semaumu
Kau bilang kau selalu memikirkanku, aku sapa saja kau merasa terganggu

Kau ini bagaimana?
Kau bilang bicaralah, aku bicara kau bilang aku ceriwis
Kau bilang jangan banyak bicara, aku bungkam kau tuduh aku apatis

Aku harus bagaimana?
Kau bilang kritiklah, aku kritik kau marah
Kau bilang carikan alternatifnya,
aku kasih alternatif kau bilang jangan mendikte saja

Kau ini bagaimana?
Aku bilang terserah kau, kau tidak mau
Aku bilang terserah kita, kau tak suka
Aku bilang terserah aku, kau memakiku

Kau ini bagaimana?
ATAU AKU HARUS BAGAIMANA?


- KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) 1987

Seni Sebagai Kata

| | 0 sudah LEBAM »


Belum ada kata yang tak mampu diucapkan

Bermula dari deretan huruf berjajar membentuk sebuah kata,
Kadang mata kasar terlihat satu namun tak menutup kemungkinan sarat akan makna.


Jejeran kata dalam kalimah berdiri teguh bak benteng dipapan catur,
Sekilas dibaca membingungkan dan nampak tak beratur.


Sang penyair melantunkan kata kata indah nan puitis,
Sang pujangga pun mengukirkan puisi yang tak kalah romantic.


Mural dan Graffiti bertebaran di sepanjang dinding kota,
Menyuguhkan kata dalam gambar agar kelak mendapatkan perhatian.


Kadang kala kata tak cukup tuk mengungkapkan perasaan,
Tapi benar juga kata orang tua dahulu kala jikalau perasaan tidak mesti diungkapkan.


Terdengar rancu mendengarkan kata bijak dari mulut seorang penjahat,
Namun sebijak bijaknya orang bijak jikalau mendengarkan meski tanpa melihat.


Hidup bagai mengumpulkan jejak kata kata,
Memungut dan menjadikannya sebagai pedoman hidup.


Tak pernah ada salah dari sebuah kata,
Tinggal cara memahami akan makna yang tersembunyi dibaliknya.


Mengungkapkan makna kata kata melalui seni,
Jalan hidup yang takkan membosankan.


Kata itu seni,
Tanpa sebuah kata seni takkan ada.


Boleh jadi sebaliknya.

Dua muka satu kepala

| | 0 sudah LEBAM »
Manusia itu pelbagai ragamnya
Ada yang punya mata tapi masih buta
Ada yang punya lidah tapi bercadang dua
Bicaranya jujur sambil berdusta
Nista umpama zikir
Meluah kata tanpanya fikir
Apa sedang praktik menjadi munafik?

Di depan mata
Kau bermanis muka
Tutur kata asyik berbunga
Hakikatnya
Disini kau mencela
Disitu kau mencerca
Menjaja onar mengusut sengketa

Kawan, jangan kau jadikan kesungguhan sebagai guyonan
Yang salah mengubati bisa membawa mati
Yang gemar berdusta kan dijauhi bila tersingkap dustanya

"Di antara manusia ada yang mengatakan bahwa mereka beriman, namun sesungguhnya mereka tidak beriman. Mereka mencoba menipu Allah dan orang-orang beriman, tapi sayang, sebetulnya mereka telah menipu diri mereka sendiri.” 
(Al-Baqarah: 8-9).

Hipokrasi

| | 0 sudah LEBAM »
Dalam megah mereka membenci,
Mengutuk,
Tidak mahu memahami,
Mengharamkan itu ini,

Pada masa yang sama jualah,
Mereka diam membisu,
Bagai dijerut halkum-halkum mereka,
Dari berperang menegakkan yang Haq,

Nun, 
Di peti kaca TV,
Galak menyentuh tiada bersebab,
Tidak lah pulak mereka menajiskan,

Nun,
Di kerusi-kerusi empuk,
Hidup sang penyangak,
Menelan segala riba,
Wahai, diam sahaja?

Nun,
Di tepi-tepi longkang,
Hidup sang gelendangan,
Dikutuk dihina,
Mereka senyap seribu bahasa.

Nun, 
Di ceruk2 dusun,
Manusia bagai lagaknya haiwan,
Menyondol kalahkan khinzir,
Tidak pula mereka khuathir

Ah,
Kerja mereka hanya mahu melaga,
Mengusut dari menguraikan,
Supaya buncit perut mereka,
Kenyang hasil menerangkan,
Kekusutan yang mereka cipta tadi.

Ah,
Borjuis-borjuis agama,
Kamu membenci yahudi nasrani,
Namun kamu semacam serasi...

Aku harus bagaimana?
Atau kamu yang harus bagaimana?

(At-Taubah: 34)